Sabtu, Agustus 08, 2015

Dua Buah Puisi Awal Agustus

Melihat Bulan

Langit punya suara di balik bulan
membiarkan doa bersarang dalam tubuhnya
dari kumpulan ragu yang tak henti bertanya
agar seorang lelaki atau perempuan menemukan sebuah jalan

di permukaan bulan aku memandang semesta
tak lagi punya waktu bermurah hati
harapan berlomba - lomba memilih mati
hampir separuh luka telah ditumpahkan begitu saja

seperti kisah seorang anak usia lima tahun
memandang bulan dari gelap dalam kamar
seolah kehidupan adalah kebahagiaan yang amat samar
selalu ada hal yang sulit tertahan dan dipatahkan

ada kupu - kupu berwarna biru memotong cahaya
tak semua keindahan patut tuk selalu dipercaya

Ujung pandang, 8 - 8 2015


Dupa Semesta

Hidup menuju mati cukup jauh
bukan jarak atau letak dari doa
setelah bergembira menyusun rencana
tapi pada penghabisan manusia telah punah

Tuhan begitu jauh dari keramahan
setelah malaikatNya membocorkan rahasia
dari sisa kebahagiaan yang amat silau
jikalau hidup kita hanya sebatas kemarahan

Ada yang meniup balon lalu meletuskannya begitu saja
tak ragu dia pecahkan udara dalam balon dan inginnya
sebab kehilangan adalah sesuatu yang bersahaja

Kepala semakin ramai dengan cerita dari langit
ada yang ditumbuhkan dari pandangan sengit
lalu Tuhan menghadiahkan kita sesuatu yang sempit

Ujung Pandang, 8 - 8 - 2015

Like the Post? Do share with your Friends.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar sahabat adalah Motivasiku!
Terima Kasih telah memberiku Motivasi!

IconIconIconFollow Me on Pinterest