Sabtu, September 07, 2013

Psikoanalisis, Pemimpin dan Depresi Sosial

Pada tahun 1980-an, Sigmund Freud mulai memperkenalkan temuannya yaitu Psikoanalisis. Gagasan tersebut hingga hari ini, tetap menjadi perbincangan dan mampu memberikan kontribusi besar bagi bidang keilmuan psikologi. Di tahun 2010, saat saya mulai terdaftar sebagai mahasiswa fakultas psikologi. Saya mendapatkan kesempatan yang kemudian menjadi pintu bagi saya untuk mengenal lebih jauh tentang Sigmund Freud dan beberapa tokoh psikologi lainnya. 

Mempelajari psikologi bukanlah hal yang rumit, tapi bukan juga hal yang mudah. Suatu ketika saya tidak mengikuti satu sesi dalam mata kuliah Psikologi Umum, dosen kemudian memberikan saya kesempatan untuk mengkaji tentang Psikoanalisis dan menjelaskan kepada seluruh mahasiswa pada pertemuan selanjutnya. Saya wajib menerimanya, sebab jika menolak saya akan dianggap sebagai mahasiswa yang senang melanggar aturan akademik. Perihal mengapa saya tidak mengikuti satu sesi, itu disebabkan oleh kegiatan di luar kelas yang menurut saya lebih penting. “Kepentingan sosial lebih penting dibandingkan kepentingan pribadi”. Seperti itu yang ada di dalam kepalaku tiga tahun silam. 

Alhasil, saya tidak membuang kesempatan itu dengan sia-sia. Saya berhasil menjadikannya motivasi ekternal yang dipadukan dengan motivasi internal. Hingga mampu menghasilkan temuan yang dapat bermanfaat bukan hanya untuk saya, tapi juga teman-teman yang ada di dalam kelas.   
*
Hari ini, di tengah memanasnya suasana politik menjelang pemilu 2014, saya teringat tugas tentang konsep psikoanalisis yang saya rampungkan di tahun 2010. Melihat perilaku para pemain politik, membuat saya kembali tertarik untuk mencerna konsep id, ego, dan superego yang menjadi gagasan kepribadian yang ditawarkan Freud dalam psikoanalisis. Penjelasan sederhana saya terkait konsep kepribadian Freud seperti ini, Lomba Pacuan Kuda. Id itu kuda yang berlari kencang, Ego adalah pengendara kuda, dan lintasannya adalah Superego.  

Id akan menimbulkan perilaku yang bebas dan bermuara pada kesenangan tanpa peduli apapun demi mencapai proses yang ingin diperoleh. Ego bertugas menghubungkan dengan realitas yang ada pada masyarakat. Sedangkan superego yang menimbulkan nilai-nilai buruk atau baik dalam mengingatkan perilaku yang ditimbulkan Id.
 
Id yang tidak dapat dikendalikan akan seperti kuda yang terus berlari, keberadaan Ego patut untuk disadari. Ego berperan penting dalam proses pengambilan tindakan, sehingga dengan alasan ini, Ego merupakan pimpinan utama, pengendali. Meskipun superego telah memperlihatkan lintasan, atau nilai baik dan buruk, tetap saja Ego menjadi pengendali agar kuda mampu berjalan melalui lintasan yang semestinya. 

Fenomena yang terjadi saat ini, di mana setiap tokoh atau pemain politik berusaha melakukan tindakan yang dapat menarik perhatian masyarakat. Berbagai bentuk komunikasi dilakukan, baik langsung maupun tidak langsung. Ajakan di media cetak hingga media elektronik dan online terus dilakukan demi mencapai sebuah titik aman di pemilu 2014. Sekiranya, kita berharap pemilu selalu menghasilkan sosok pemimpin yang dapat kita percayai bersama dan membawa perubahan. 

Akan tetapi kecendrungan Ego para pelaku politik mulai terkalahkan oleh Id itu sendiri. Bila itu benar terjadi maka, politik uang adalah hal yang wajar terjadi menjelang pemilu. Ketika Id mulai bekerja, semua akan berhubungan dengan prinsip kesenangan, yakni selalu mencari kenikmatan dan menghindari ketidaknyamanan. Masyarakat akan digiring pada persepsi yang penuh sesat akan kontes pemilihan pemimpin. Tidak sedikit masyarakat yang terbawa oleh derasnya Id pelaku politik yang kehilangan kemampuan ego dan superego.
*
Kita wajib bersiap menanti lahirnya depresi sosial. Saat di mana kita akan merasa tidak nyaman, tertekan, bahkan frustasi atas keadaan yang serba tidak pasti dalam berbagai hal. Semua itu disebabkan oleh perilaku kita sendiri, pemilu gagal kita laksanakan secara benar dan tepat. Hanya menjadi ajang bagi tokoh-tokoh yang membiarkan Id berkuasa dan bebas menebas perubahan menjadi kebohongan. Kepedulian kolektif terhadap perubahan kadang hilang karena beberapa hal sepele.

Masyarakat senang dengan pemimpin yang tidak berambisi dengan jabatan. Masyarakat senang dengan pemimpin yang setia dan loyal terhadap janji-janji perubahannya. Dan juga masyarakat menanti pemimpin yang membangun transparasi melalui komunikasi terbuka dan aktif dengan masyarakat. Semoga ada pemimpin yang memimpin dirinya untuk jadi sebenar-benarnya pemimpin.
Atau kita tinggal menunggu waktu itu tiba? Membiarkan depresi sosial datang menjadi penyakit psikologis kita bersama. 

*


Catatan:
Tulisan di atas dimuat di Koran Tempo Makassar, Sabtu, 7/09/13, di rubrik Literasi.



Like the Post? Do share with your Friends.

1 komentar:

  1. Pengen yang lebih seru ...
    Ayo kunjungi www.asianbet77.com
    Buktikan sendiri ..

    Real Play = Real Money

    - Bonus Promo Red Card pertandingan manapun .
    - Bonus Mixparlay .
    - Bonus Tangkasnet setiap hari .
    - New Produk Sabung Ayam ( minimal bet sangat ringan ) .
    - Referal 5 + 1 % ( seumur hidup ) .
    - Cash Back up to 10 % .
    - Bonus Royalty Rewards setiap bulan .

    Untuk Informasi lebih jelasnya silahkan hubungi CS kami :
    - YM : op1_asianbet77@yahoo.com
    - EMAIL : melasian77cs@gmail.com
    - WHATSAPP : +63 905 213 7234
    - WECHAT : asianbet_77
    - SMS CENTER : +63 905 209 8162
    - PIN BB : 2B4BB06A / 28339A41

    Salam Admin ,
    asianbet77.com

    Download Disini

    BalasHapus

Komentar sahabat adalah Motivasiku!
Terima Kasih telah memberiku Motivasi!

IconIconIconFollow Me on Pinterest