Sabtu, Maret 03, 2012

Mahasiswa, Menulis, dan Resiliensi

Terwujudnya suatu negara yang tangguh akan dipengaruhi oleh Sumber Daya Alam yang melimpah serta Sumber Daya Manusia yang dimiliki. Ketika Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dihadapkan dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah tentu akan tercipta sebuah tatanan negara yang superpower.

Namun dua hal tersebut tidak mesti dimiliki sebuah negara ketika ingin menjadi tangguh. Bisa salah satunya saja, tapi ketika keduanya mendukung maka tidak menutup kemungkinan sebuah peradaban yang tangguh akan tercipta. Bagaimana dengan Indonesia? Sumber Daya Alam melimpah, namun masih disayangkan bahwa Sumber Daya Manusia masih perlu peningkatan agar bisa mengelolah Sumber Daya Alam yang ada. Sumber Daya Alam yang melimpah tentu tidak menjamin masyarakat untuk dapat menikmati semua itu tanpa didukung adanya Sumber Daya Manusia yang handal. Namun sebaliknya, SDM yang handal akan dapat bersaing sekalipun masyarakat berada pada kondisi di daerah SDA-nya terbatas. SDA yang mampu diolah dengan teknologi akan melahirkan produk-produk inovatif.

Laporan dari United Nations Development Program (UNDP) pada tahun 2011, menyatakan bahwa Human Development Indeks di Indonesia ternyata berada pada posisi 124 dari 187 negara. Jika dibandingkan pada tahun 2010 Indonesia menempati posisi 108, namun saat itu hanya terdapat 169 negara yang tergabung. Tahun 2011 Indonesia berhasil mengalahkan 63 negara, dan hal tersebut menjadi peningkatan dimana pada tahun 2010 Indonesia mengalahkan 61 negara. Salah satu indikator peningkatan Human Development Indeks yakni perkembangan pendidikan di suatu negara.

Tantangan Mahasiswa

Edaran Surat Dirjen Dikti Nomor 152/E/T/2012 tertanggal 27 Januari 2012 yang ditujukan kepada Rektor/Ketua/Direktur PTN dan PTS seluruh Indonesia tentang keharusan publikasi karya ilmiah bagi sarjana menjadi pertanda bahwa kemajuan di bidang pendidikan akan semakin lebih baik. Namun disisi lain, kebijakan tersebut menjadi bumerang bagi mahasiswa. Melihat kondisi mahasiswa saat ini, dengan minat menulis, minat riset yang masih minim akan menjadi hambatan dalam mewujudkan terlaknsananya kebijakan tersebut.

Komentar-komentar bermunculan dengan adanya surat edaran tersebut, namun hemat penulis kita tak perlu fokus pada masalah yang dimunculkan melainkan fokus pada solusi yang bisa menemukan ruang yang lebih baik kedepannya. Tentu surat edaran itu akan memberikan dampak bagi pihak yang ditujukan (baca; mahasiswa) Surat edaran tersebut bisa menjadi cikal bakal lahirnya budaya penelitian atau riset yang akan berkembang di dunia akademik Indonesia.

Sekiranya mahasiswa mampu melakukan sebuah perubahan dengan langkah awal, mengembangkan minat menulis. Menulis adalah pekerjaan yang menyenangkan, namun kadang kita mesti berhati-hati agar tidak terjebak pada posisi plagiarism. Tentu akan banyak tantangan dan halangan dalam mengembangkan minat menulis, seperti halnya ketika terjebak pada posisi plagiarism dan dicap sebagai plagiat. Maka jelas akan mempengaruhi minat menulis, kepercayaan diri akan berkurang. Akan tetapi, sebuah perilaku yang bisa diterapkan dalam kondisi seperti itu adalah Resiliensi.

Newcomb (1992) dalam LaFramboise et al., (2006) melihat resiliensi sebagai suatu mekanisme perlindungan yang memodifikasi respon individu terhadap situasi-situasi yang beresiko pada titik-titik kritis sepanjang kehidupan seseorang.
Menurut Reivich & Shatte (2002) dan Norman (2000) dalam Helton & Smith (2004), resiliensi merupakan kemampuan seseorang untuk bertahan, bangkit, dan menyesuaikan dengan kondisi yang sulit. Sekiranya kesalahan masa lalu bisa menjadi pemicu agar mampu mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Orang sekitar yang mengkritik bisa menjadi sumber motivasi untuk kembali berjuang keras memperlihatkan kemampuan kita.

Sudah saatnya mahasiswa memanfaatkan kekuatan tulisan dalam menjadi agen of change. Di tambah dengan aksi nyata yang dilakukan di masyarakt, tentu akan jauh berdampak positif. Selain itu mahasiswa wajib memiliki minat untuk terjun dalam dunia riset. Melakukan penelitian-penelitian yang hasilnya akan dijadikan bahan dalam mengawal kebijakan-kebijakan pemegang kekuasaan. Lewat penelitian-penelitian yang ditemukan, maka perubahan akan menjadi nyata adanya.




Sekarang, coba kita melihat Amerika dan Singapura, dua negara yang kemudian maju dengan kondisi yang berbeda. Amerika merupakan negara kaya akan Sumber Daya Alam dan manusianya, sementara Singapura kaya akan sumber daya manusia namun tidak memiliki sumber daya alam. Namun, mengapa kemudian dua negara tersebut mampu mendapatkan posisi yang hebat di mata dunia? Kedua negara tersebut, memperlihatkan tingkat realisasi riset dan development dalam proses pembangunan. Termasuk diantaranya melahirkan banyak peneliti-peneliti handal. Prediksi berbagai kalangan menunjukkan bahwa salah satu dari 10 pekerjaan yang paling bergengsi pada masa yang akan datang adalah ahli riset.

Sadar akan posisi Indonesia hari ini, yang tertinggal dalam hal riset oleh beberapa negara yang ada di ASEAN seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Maka kaum intelektual wajib mewujudkan impian pemerintah. Namun kebijakan tersebut perlu menjadi jembatan untuk saling instrospeksi diri masing-masing.

Kita wajib memandang upaya pemerintah sebagai langkah yang positif dalam menciptakan kondisi atau iklim pendidikan yang baik. Masalah yang kemudian perlu untuk diperhatikan adalah perhatian pemerintah akan penelitian. Semestinya pemerintah mampu mendata berbagai lembaga-lembaga penelitian atau peneliti-peneliti yang ada, yang mampu menjadi senjata dalam mewujudkan iklim budaya riset yang kental di Indonesia.

Pendewasaan Bangsa

Melalui kegiatan riset akan tercipta pendewasaan bangsa. Hal positif yang bisa kita dapatkan dari munculnya surat edaran tersebut tentu akan bermunculan. Seperti halnya akan lahir peneliti-peneliti di kalangan akademik yang merasa terpanggil oleh lingkungan atau keadaan yang ada. Penelitian mampu menciptakan kondisi yang lebih baik. Kemudian, untuk pengertian penelitian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa penelitian ialah pemeriksaan yang teliti; atau penyelidikan; atau kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum.

Ketika seseorang terjun dalam kegiatan riset, maka dia akan terlatih dalam memecahkan masalah demi masalah yang terjadi. Kelak mampu menghadapi persoalan yang akan bermunculan di lingkungannya. Kegiatan seperti itu akan melahirkan budaya akademik oleh individu, dalam rumah tangga, dunia kerja dan organisasi. Perkembangan riset selalu akan melahirkan penemuan-penemuan baru, tercipta inovasi serta pembaharuan terhadap kondisi yang ada di sekitar kita. Kegiatan-kegiatan riset yang nantinya akan terus berkembang akan memperluas pengetahuan dan mampu membentuk karakter positif.

Dalam tahap penelitian, seorang peneliti akan mengalami proses pembelajaran baik intelektual maupun emosional. Dalam hal mencari dan mengumpulkan data, mengenal lingkungan atau kondisi baru, semua itu tentunya akan menanamkan budaya yang menciptakan pribadi-pribadi yang berkualitas. Selanjutnya, riset akan menghasilkan karya-karya yang mampu menjadi sebuah bentuk prestasi yang bisa mengharumkan bangsa Indonesia di mata dunia. Semoga akan ada Resiliensi!


Terbit di Koran Tribun Timur Makassar
Sabtu, 3 Maret 2012


Like the Post? Do share with your Friends.

1 komentar:

  1. tidak semudah yg saya fikirkan..

    terimakasih ilmunya :)

    BalasHapus

Komentar sahabat adalah Motivasiku!
Terima Kasih telah memberiku Motivasi!

IconIconIconFollow Me on Pinterest