Sabtu, Januari 14, 2012

Sekelumit tentang Psikologi Remaja (Bagian 3)

D. Perkembangan Sosial

Menurut Erikson, identitas versus kebimbangan identitas merupakan tahap perkembangan Erikson yang ke-5 yang teradi disaat individu berada pada masa remaja. Pada tahap ini remaja berusaha untuk menemukan bahwa siapakah mereka sebenarya, apa saja yang ada di dalam diri mereka dan arah mereka dalam menjalani hidup.

Perubahan dalam perilaku sosial yakni;
1. Perubahan dibidang heteroseksual
Remaja mengadakan hubungan radikal dari tidak menyukai lawan jenis sebagai teman menjadi lebih menyukai teman dari lawanjenisnya dari pada teman sejenis.
2. Perubahan dalam wawasan sosial
Wawasan sosial remaja akan semakin membaik. Remaja dapat menilai teman-temannya dengan lebih baik sehingga penyesuaian diri dalam situasi sosial bertambah baik dan pertengkaran menjadi berkurang.
3. Perubahan dibidang kompetensi sosial
Kompetensi sosial remaja akan semakin meningkat seperti dalam mengadakan pembicaraan,kemampuan olahraga, permainan yang populer,dan berperilaku baik dalam situasi sosial.
4. Prasangka dan diskriminasi
Remaja cenderung lebihmeilih-milih dalam menentukan rekan dan teman-teman baik dibandingkan ketika masih anak-anak. Remaja yang latar belakang sosial,agama, dan ekonomi berbeda dianggap kurang disenangi

Faktor yang mempengaruhi perekembangan Sosial remaja meliputi; Keluarga, Kematangan remaja, Status sosial ekonomi, Pendidikan, Kapasitas mental, emosi, dan intelegensi.
Pengelompokan Sosial Remaja
a. Teman dekat, remaja biasanya mempunyai dua atau tiga teman dekat atau sahabat karib
b. Kelompok kecil, terdiri dari kelompok teman-teman dekat
c. Kelompok besar,yang terdiri dari beberapa kelompok kecil dan kelompok teman dekat, berkembang dengan meningkatnya minat akan pesta dan berkencan
d. Kelompok yang terorganisir, yang dibina oleh orang dewasa dibentuk oleh sekolah dan organisasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial para remaja yang tidak mempunyai klik atau kelompok besar
e. Kelompok gang, anggota gank yang biasanya terdiri dari anak-anak sejenis dan minat utama mereka adalah untuk menghadapi penolakan teman-teman melalui perilaku antisosial.

Sindroma penerimaan
1. Kesan pertama yang menyenangkan sebagai akibat dari penampilan yang menarik perhatian, sikap yang tenang dan gembira.
2. Reputasi sebagai seorang yang sportif dan menyenangakan.
3. Penampilan diri yang sesuai dengan penampilan teman-teman sebaya.

Sindroma penolakan
1. kesan pertama yang kurang baik karena penampilan diri yang kurang menarik atau sikap menjauhkan diri, yang mementingkan diri sendiri.
2. Terkenal sebagai seorang yang tidak sportif
3. Penampilan yang tidak sesuai dengan standar kelompok dalam hal daya tarik fisik atau tentang kerapihan.


E. Perkembangan Emosi

Keadaan emosi remaja muncul disebabkan oleh tekanan sosial dan saat menghadapi kondisi baru karena pada masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi setiap perubahan keadaan (Hurlock, 1980)
Karakteristik Emosi Remaja
Menurut Biehler, 1972
Usia 12-15thn ;
a. Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
b. Berrtingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri.
c. Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri (egois).
Usia 15-18 tahun
a. ‘’pemberontakan’’ remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari kanak-kanak menuju dewasa.
b. Banyak remaja yang mengalami konflik dengan orang tua mereka.
c. Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka.

Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Dengan cara membicarakan berbagai masalah pribadinya dengan orang lain(keterbukaan). Ketika remaja tidak lagi mengungkapkan emosi secara meledak-ledak dan menggunakan cara yang lebih diterima maka remaja sudah matang secara emosi Remaja yg matang secara emosi mampu melakukan coping stress.

Teori-teori Emosi

Schachter-Singer “Teori emosi dua faktor”

Reaksi fisiologik dapat saja sama (hati berdebar, tekanan darah naik, nafas bertmbah cepat, adrenalin naik, dsb), namun emosi yang muncul bergantung rangsangannya. Jika rangsangannya menyenangkan, emosi yang timbul dinamakan senang, dan jika rangsangannya membahayakan, emosi yang timbul dinamakn takut.

Teori James-Lange
Emosi timbul setelah terjadinya reaksi psikologik. Jadi kita senang karena kita meloncat-meloncat setelah melihat pengumuman dan kita takut karena kita lari setelah melihat nilai.

Teori “Emergency” Cannon
Emosi timbul bersamaan dengan reaksi psikologik. Karena gejolak emosi itu menyiapkan seseorang untuk mengatasi keadaan yang genting.

F. Perkembangan Moral dan Budaya

Menurut Coleman, para remaja sadar akan pentingnya kebudayaan sebagai tolak ukur terhadap tingkah laku sendiri, akan tetapi remaja juga memiliki keinginan untuk mandiri sehingga mereka membuat tolak ukur yang berbeda dari orang dewasa, dimana mereka membuat kebudayaan sendiri yang berbeda dari kebudayaan masyarakat umumnya yang disebut kebudayaan menyimpang (kebudayaan anak muda).

Perubahan Budaya:
Asimilasi = Pelepasan Indentitas Budaya
Akulturasi = Perubahan Budaya
Alterasi = Adaptasi Budaya Baru
Multikultural = Mempertahankan Budaya Dan Adaptasi Budaya Baru
Fusi = Peleburan Budaya Menjadi Budaya Baru
Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral yang berlaku khusus di masa kanak-kanak dengan prinsip moral yang berlaku umum dan merumuskannya kedalam kode moral yang akan berfungsi sengai pedoman bagi perilakunya.
Sarlito : Mores atau moral untuk remaja merupakan suatu kebutuhan tersendiri karena mereka sedang dalam keadaan membutuhkan pedoman atau petunjuk dalam rangka mencari jalannya sendiri. Pedoman ini dibutuhkan juga untuk menumbuhkan identitas diri, menuju kepribadian matang dengan unifying philosophy of life dan menghindarkan diri dari konflik konflik peran yang selalu terjadi pada masa transisi ini.

Martin Hoffman (1980) mengembangkan teori disequilibrium kognitif (cognitive disequilibrium theory), yang mengatakan bahwa masa remaja adalah masa yang penting dalam masa perkembangan moral, terutama ketika individu berpindah dari sekolah dasar yang relatif homogen kesekolah lanjutan dan lingkungan kampus yang lebih heterogen. Remaja kemudian menyadari bahwa rangkaian keyakinan mereka hanyalah satu di antara sekian banyak dan bahwa diluar sana ada perdebatan yang perlu dipertimbangkan mengenai apa yang benar dan apa yang salah.

Teori Kohlberg :
Tingkat Pra Konvensional : Pada tingkatan ini individu tidak menunjukkan adanya internalisasi nilai-nilai moral-penalaran moral dikendalikan oleh hadiah atau reward dan hukuman eksternal.
• Tahap 1 : Orientasi hukuman dan kepatuhan : pada tahap ini pemikiran moral didasarkan pada hukuman
• Tahap 2 : Individualisme dan Tujuan : pada tahap ini pemikiran moral didasarkan pada hadiah atau reward dan minat pribadi.
Tingkat Konvensional : pada tingkatan ini individu mematuhi beberapa standar tertentu (internal), tetapi standar tersebut merupakan standar orang lain (eksternal), misalnya orang tua atau hukum yang berlaku di masyarakat
• Tahap 3 : normainterpersonal (interpersonal norms) : pada tahap ini individu menganggap rasa percaya, rasa sayang, dan kesetiaan terhadap orang lain sebagai dasar untuk melakukan penilaian moral.
• tahap 4 : Moralitas sistem sosial ( social system morality ), pada tahap ini merupakan penilaian moral didasarkan pada pemahaman terhadap aturan hukum, keadilan, dan tugas.
Tingkat Penalaran Postkonvensional : Pada tingkatan ini, moralitas ini diinternalisasi sepenunya dan tidak lagi didasarkan pada standar orang lain.
• Tahap 5 : Hak komunitas vs Hak Individu
( Community rights vs individual rights ) : Pada tahap ini, seseorang memiliki pemahaman bahwa nilai dan hukum adalah relatif dan standar yang dimiliki seseorang akan berbeda dengan orang lain.
• Tahap 6 : Prinsip etis universal ( universal ethical principles ) pada tahap ini seseorang sudah membentuk standar moral yang didasarkan pada hak manusia secara universal.

to be continue...




Like the Post? Do share with your Friends.

3 komentar:

  1. bro,,,mau kha blajar psikologi sama kau,,,,kapan bisa bro ??????

    BalasHapus
  2. ok,, thanks atas inspirasinya,, sebagai remaja tentunya kami menyadari akan keadaan psikologis,,,

    BalasHapus

Komentar sahabat adalah Motivasiku!
Terima Kasih telah memberiku Motivasi!

IconIconIconFollow Me on Pinterest