Sabtu, November 05, 2011

Bukan, atau anggap saja belum!

Kenapa begitu sulit menerjemahkan apa yang bergetar di dalam sini?
Kenapa begitu rumit menafsirkan apa yang berdebar di dalam sini?
Masa bodoh, namai saja itu cinta, sebut saja itu cinta!
Tapi aku tau itu bukan, atau anggap saja belum.

Lalu kenapa dia harus selalu ada dalam setiap jeda?
Lalu kenapa dia mesti selalu nampak pada setiap tapak?

Itu cinta bukan?

Bukan, atau anggap saja belum.
Kemudian berlari pergi menjadi pilihan yang paling masuk akal

Sekedar menguji apa masih ada getar, apa masih ada debar,
Saat dia tak lagi mewujud pada mata yang kasat
Saat dia tak lagi merupa pada tatap yang bulat

Ternyata lagi-lagi aku kalah

Masih ada mozaik-mozaik wajah serupa bayang mewujud pada pejaman
Masih ada Potongan-potongan wajah serupa bayang menyata pada lamunan

Masihkah kau mengelak?

Baiklah, aku menyerah
Aku sebut saja itu cinta

Tapi jika memang benar itu cinta
kenapa aku masih merasa sakit ketika kudengar dia sudah lebih dulu berkasih?
Kenapa aku masih merasa perih ketika kutau aku tak pantas menjadi kekasih?

serendah itukah?
Sedangkal itukah?


Aaaahh!!
Bisakah tak usah ada tanya???

Atau mungkin lebih baik kubiarkan tak bernama
Dan kembali tidur dan bermimpi

Tentang datangnya hari yang disebut masa depan
Menyuguhkanku senampan,

bukan hanya nama, namun juga sebuah ikatan
tentang janji sehidup semati

Tapi maaf,
Jika boleh sekali lagi aku bertanya,

Apa bisa di sebut cinta jika aku berharap masa depan itu dia?



*Karya: Anhar Dana Putra
Terima Kasih telah berbagi karya untuk blog sederhana ini,


Like the Post? Do share with your Friends.

1 komentar:

Komentar sahabat adalah Motivasiku!
Terima Kasih telah memberiku Motivasi!

IconIconIconFollow Me on Pinterest