Selasa, September 13, 2011

peNcuRi?

Terhadapkanlah semuanya pada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya, terlahir cerita dari jejak-jejak pasir yang terhamburkan dari pijakan langkah yang bersembunyi di balik angin biru. Dari tiga tiang atau bahkan empat tiang yang setia berbincang dengan pintu yang telah kehilangan senyumnya. Tuhan tidak pernah menginginkan murka terlahir dari kehilangan yang berbuah derai titisan kemerdekaan bagi lelaki berkulit hitam, dengan hebatnya menghadirkan apa yang tidak pernah di harapkan.

Sementara itu, debu-debu tertawa melihat sedih yang di urai dalam cerita-cerita bahagia, tentang kesabaran dan senyum yang terlahir dari pahitnya cerita hari itu ataupun hari ini. Kursi yang tulangnya merapuh bahkan resah dengan hadirnya, di setiap dinding tertera lukisan kekhawatiran, kau tidak mengerti dengan bahasa hari ini. Bukan rahasia jika tiga tiang terus berdiri menyepikan hadirnya, dan jejak melupakan tuannya. Semua terlihat, bahkan disaat mata terpejam dan sang pintu merapatkan ruas-ruas putih yang mulai terkotori.

Kalaupun Tuhan telah merekayasa bahagia, tak seharusnya bahagia itu tak dibiarkan tetap hadir dalam jejak-jejak yang tertanam pada lantai selalu bersaksi dengan tegasnya. Kau mungkin akan tertidur dengan lelap ketika malam mulai bersenandung pada dewa Eros yang membawa panahnya, dan bersiap menambak cinta pada jiwa yang mulai kehilangan rasa. Sebelum kemudian kau menuai rentetan perih yang bergabung menuduh kesedihan berteriak riang, harusnya kau menuntaskan hari ini dengan cerita yang lucu. Kau melahirkan tawa, dan menghapus sedihmu. Bukankah hari itu lelucon yang penuh dengan gelak tawa pengunjung?

Bisikan yang setia pada anging mamiri, aku sampaikan pada jejak yang menenggalamkan roda hidup. Sedangkan di Tectona grandis L.f. daun-daun yang kering, sebelum mereka jatuh dan meninggalkan ranting, tertinggalah pesan rindu dan damai. Kelak saat daun itu jatuh, dengan senyum mereka akan berbahagia terlahir menjadi daun yang baru. Pada roh yang menjaga pintu, dan lantai yang senantiasa diam merekam pergantian waktu. Tidakkah jejak itu adalah daun yang berganti karena terhempas anging mamiri. Aku bisa saja salah, jika harus menyamakan jejak hitam dan ketulusan daun Tectona grandis yang kemudian dengan tulusnya kembali meleburkan hadirnya pada tanah, demi daun-daun baru berikutnya.

Tidak sepantasnya kehilangan, atau bahkan masalah hari ini kau generalisasikan pada apa yang tak semestinya. Tuhan menghadiahkan senyum bahagia pada orang yang ikhlas menerima cobaan. Sementara Iblis menancapkan kebencian, yang tersalurkan pada ruang hitam, dan mencuri sinar kebersahajaan. Tertawalah iblis yang berhasil mencuri segalanya, harusnya kita tetap menjaga ketabahan dan keikhlasan itu. Amankan, dekap dan genggam kebersamaan yang disaksikan Rumah Nalar dalam setiap waktu yang mulai merapuh. Rapuh itupun akan kembali menguat, yakin saja! Apa yang tertuliskan ini, adalah harapan yang selalu terjaga dalam hati penulis.


Like the Post? Do share with your Friends.

1 komentar:

Komentar sahabat adalah Motivasiku!
Terima Kasih telah memberiku Motivasi!

IconIconIconFollow Me on Pinterest