Selasa, Agustus 02, 2011

Peti Kenangan Bersama Kakek

Tibalah saat hari kemudian menggulung seluruh kenangan , kemudian gulungan itu disimpan dalam sebuah peti memori yang rapi dan sebentar lagi ingin kututup rapat agar tak seorang pun mengganggu isi peti itu. Peti yang berisikan sejuta cerita yang tidak pernah kudapatkan sebelumnya, hingga hari ini sepertinya cerita itu takkan pernah terulang.

Cerita saat hari-hariku terasa berarti bersama kakek, tanpa ada campur tangan orang tua, pantas jika aku masukkan dalam peti. Tak ingin ada yang mengganggu semua itu.
Masa kecilku indah karena ada kakek.

Tak ingin kusebut dia almarhum karena bagiku nafasnya telah memberiku arti hidup hari ini. Inspirasi besar yang membentuk pribadiku, karakterku terbentuk karena didikannya. Sepintas saya terlihat tidak menerima kenyataan kalau kakek sudah tidak ada, secara psikologis saya beliau masih hidup dalam hati dan pikiran saya.

Saat kecil, aku dibesarkan di rumah kakek yang ada di daerah Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Sementara Ayah kerja di PT Angkasapura waktu itu, dan Ibu masih melanjutkan kuliahnya yang sempat terhenti, akhirnya saya dibesarkan oleh kakek dan nenek. Orangtua di Makassar, dan saya di daerah. Setiap bulan, sesekali orangtua menjenguk, jika tidak sempat surat pun menggantikan hadirnya, dan kakek yang selalu membacakannya untukku.

Kakek otoriter, sangat otoriter dalam mendidik aku. Kakek sering bercerita tentang masa-masa ketika beliau menjadi anggota gerilawan melawan penjajah, menjelajah hutan, naik gunung, bersembunyi dan menyerang penjajah. Bahkan kakek pernah di tembak penjajah, peluru bersarang di paha kanannya, hingga akhir hayatnya peluru itu masih ada, beliau tidak merisaukan itu. Baginya semua itu adalah pengabdian untuk bangsa. Kakek juga dulunya adalah seorang lurah,”Harus displin!” itu intinya.

Saya sering mendengar cerita kakek dari orang-orang yang pernah bersamanya, salah satu cerita yang saya dengarkan seperti ini, cerita ini di ceritakan oleh orang yang ikut dalam kejadian itu juga, namanya Johnnes. Johnnes adalah pendatang di daerah dan akhirnya di panggil untuk tinggal di rumah bersama kakek, kupanggil dia Om John.

Ceritanya seperti ini:
Dulu, ada seorang pria yang bertamu dan berniat ingin mendaftar untuk bekerja di kelurahan atau ingin dibantu jadi PNS. Pria itu datang ke rumah dan bertemu langsung dengan kakek, pada waktu itu kakek menyuruh John untuk membuatkan teh.

“Nak, nanti tehnya jangan diberi gula. Teh saja!” Bisik kakek kepada John.


John terheran mendengar perintahnya, dan perintah pun dilaksanakan.


Saat si tamu meminum teh itu, kakek kemudian bertanya.


“Bagaimana, tehnya manis atau tidak?”


“Manis, tehnya manis!”


Mendengar jawaban dari tamu John menahan tawanya di balik pintu, perbincangan kakek dan tamu itu pun berlajut hingga teh yang tidak manis tapi di bilang manis habis di minum.


“John, tadi itu kamu tahu kenapa saya perintahkan seperti itu?”


“Tidak,”


“Itu untuk melihat dia jujur atau tidak, kamu dengar pas saya tanyakan?”


“Iya, katanya manis padahal tidak! Mungkin takut atau segan dengan bapak, jadi bohong!”


“Itu contoh orang lemah, takut jujur dengan keadaan sekitarnya!”


Sekarang Om John bekerja di PLN, sebagai kepala Cabang. Dan punya lima orang anak, kelima anaknya itu teman akrab saya.


Dalam membesarkan saya, kakek terkadang keras. Marah jika saya pulang terlambat, bermain terlalu lama, berteman dengan anak nakal menurutnya. Kesulitan saya saat itu adalah saat harus berteman dengan orang-orang sekitar, yang notabene adalah orang-orang yang menomor satukan bermain, cara bicaranya terkadang tidak sopan, lingkungan memang membentuk mereka seperti itu.


Namun saat itu, saya tetap berteman dengan orang seperti itu. Marahnya kakek, mungkin telah menjadi filter untuk tidak ikut-ikutan dengan gaya mereka, meskipun selalu gabung dengan mereka.


Kepergian kakek saat saya berumur 12 tahun, duduk di bangku SMP kelas 1. Sempat merubah pola pikirku, saya sedih kemudian sedih itu kuhilangkan dengan bermain, gabung dengan teman-teman yang dulunya kakek larang. Semua berubah seketika, hingga nilaiku pada semester pertama hancur, barulah saat itu saya sadar. Bahwa saya bukan Wawan yang dulu lagi, kakek akan marah luar biasa jika seperti ini. Dan akhirnya saat itu, saya kembali merenungkan kesalahanku. Tanpa kakek yang selama ini menjadi pahlwanku, aku kaah dengan diriku sendiri. Kuputuskan untuk menjadi pahlawan untuk diriku sendiri.


“Rajin belajar, jangan malas, ayo sholat, jangan berteman dengan itu, dan masih banyak tegurannya atau nasehatnya!”


Kakek masih hidup dalam hari-hariku, masih selalu bersama dalam setiap langkah yang kujalani meski terkadang aku merasakan telah melangkah di jalan yang salah, dan saat itu pula kakek kemudian muncul dalam pikiranku. Masih mendengar nasehatnya, mendengar saat beliau menegur langkahku. Semoga beliau ada di surga saat ini, melihatku, mendengar kisahku, dan tertawa melihat senyumku.

Aku akan menjadi apa yang dulu kakek inginkan, apa yang kakek ajarkan. Jika kakek dulunya berani melawan penjajah, aku pun demikian. Perjuangan masih panjang, orang bilang kita masih belum merdeka, ini saatnya untuk merubah dunia, karena aku BISA!!!

Terakhir, kepada para sahabat yang sengaja atau tidak sengaja menyempatkan waktunya untuk membaca kisah ini, tolong kirimkan Al-Fatihah atau doa kepada kakek, agar disana kakek akan terus tersenyum.

Kisah ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, Abdul Cholik.


Sponsored By :

- http://www.kios108.com/
- http://halobalita.fitrian.net/
- http://topcardiotrainer.com/
- http://littleostore.com/


Like the Post? Do share with your Friends.

22 komentar:

  1. wow!!!! bagus ceritanya. jd inget kakekku yg sdh tiada jg. beliau jg otoriter. tp emng ada benernya. br nyadar, stlh besar. hehhee..... sukses y. smoga menang. lam kenal...........
    btw, mau dong tehnya.. hehehe....

    BalasHapus
  2. Ceritanya bagus..jadi ingat kakekku.. :((

    BalasHapus
  3. good grandpa. aku masih punya satu kakek... yg satu lagi sudah dipanggil Allah, setelah ramadhan tahun lalu..sifatnya juga disiplin.

    BalasHapus
  4. nice motivation :)
    semoga kakeknya tenang disisi-Nya amiiinn :)

    BalasHapus
  5. org baek pasti jasanya akan sll dikenang..

    Insya Allah beliau sdh tersenyum di syurga..

    Al Fatihah insya Allah

    BalasHapus
  6. kekerasan orang tua kadang tidak kita mengerti saat kita masih muda, ketika kita dewasa baru kita menyadari akan makna kekerasan yang dulu pernah diajarakan oleh orang tua kita

    BalasHapus
  7. hey..
    keren tulisannya
    salam kenal ya
    main juga ya
    http://fitriyeye.blogspot.com/

    BalasHapus
  8. Bagus, mas, bisa menginspirasi, karena ada isi patriotisme dalam ceritanya. Dari seorang anak muda, menghadapi lingkungan buruk yang mencoba dan sudah mempengaruhi, tapi kemudian berhasil bangkit dengan masih berproses ( terlihat pada akhir cerita).
    oh ya, untuk do'a dan hadiah surah biasanya perlu nama lengkap kakek.....supaya benar terarah kepada kakeknya.

    BalasHapus
  9. Di akhir artikel tolong ditambahkan sponsornya yachh...lihat di artikel pengantar, maaf kemarin kelupaan. Makasih

    Sekalian postingannya dirubah jadi tgl 2/8 supaya bisa didaftarkan sebagai peserta.

    BalasHapus
  10. Salam kenal aja ya.

    Dont forget to visit me back, wokey.
    Promosi hosting gratis untuk 1 tahun. Cukup mendaftar dan upgrade disini secara gratis.

    BalasHapus
  11. Hi.... mat kenal blogger pesantren nih. Wah ini blog diari apa curhatan ya. hehe..

    BalasHapus
  12. kayaknya bagus nih.. tulisan di sini kalau dijadiin buku cerpen.

    BalasHapus
  13. Aku juga punya banyak keangan dengan kakek. but.. sayang saya blum sempat ketemu nenek

    BalasHapus
  14. Terkadang sikap kakek melebihi sifat ayah. Setuju?

    BalasHapus
  15. Terimakasih atas partisipasi sahabat dalam kontes CBBP
    Artikel sudah dicatat sebagai peserta....
    Salam hangat dari Jakarta.....

    Merdeka!!

    BalasHapus
  16. jadi inget kakekku nih yg sudah tiada.

    BalasHapus
  17. wah ceritanya menginspirasi wan...semangat terus ya,,berjuang meraih cita-cita..merdeka!!!

    BalasHapus
  18. Alfatikhah buat Kakek sudah terkirim
    semoga beliau senyum senyum melihat kita semua sedang ngeblog sekarang

    BalasHapus
  19. Dija belom bisa ngaji Om...

    Dija amin amin aja ya

    BalasHapus
  20. Terima kasih atas partisipasinya, salam kenal

    BalasHapus
  21. Ternyata ada juga seseorang selain bunda yang dibesarkan oleh kakek or nenek. Bunda bangga sampai sekarang udah jadi cucu kesayangan kakek bunda. Kenangan manis bersamanya tak kan mudah terkikis oleh waktu. Selamet ya. Bunda suka tulisannya. Semoga menang.

    BalasHapus

Komentar sahabat adalah Motivasiku!
Terima Kasih telah memberiku Motivasi!

IconIconIconFollow Me on Pinterest