Selasa, Juli 19, 2011

Senandung Rumput Sepi

Embun tidak akan pernah ada sebelum aku memanggilnya sendiri, dia tak berani mendekat. Langit dengan birunya menegaskan hidup yang begitu penuh cobaan. Namun ada mentari yang selalu menyadarkanku dari setiap berkas cahaya yang disampaikannya pagi ini. Entah pagi ini aku menunggu, menanti seorang petani lewat dan memberiku satu senyumnya. Tidak ada lagi padi di sawah ini, para petani telah panen kemarin, semua telah bergembira dan bersyukur. Aku pun ikut bahagia dan gembira saat mereka tersenyum seakan tak punya masalah, saat panenlah mereka berubah menjadi manusia-manusia paling bahagia di mataku.

Bertanya pada awan yang pagi ini masih tetap tertunduk layu, mungkin mendung bersiap memayungi pikiranku pagi ini. Tapi, aku bersyukur masih ada kicau burung yang terus menemani hatiku yang saat ini tengah gundah gulana. Tidak ada hari yang seberat hari kemarin, saat semua pikiranku merasa tak ada lagi harapan memilikinya.

Mawar, benar-benarlah mawar yang telah terjaga dengan indahnya. Putihnya telah termiliki dalam balutan kasih yang besar, tanpa perlu melirik aku disini, tentunya mawar itu tengah bermain dengan hadirnya. Hingga nanti malam kembali menyapa, aku berbisik pada bintang." Bintang, tidak adakah mawar lain yang bisa menggantikannya?" Namun, aku tidak akan merasa sulit untuk memindahkan pilihan lagi.

Ada kain putih berkibar di pematang sawah, melambai-lambai tertiup angin. Dan aku bertanya, "adakah putih itu untukku?" Sang kain putih hanya membisu. Sepertinya, putihku tidak pernah mampu untuk menjaga putihnya. Jelas sudah, aku berharap pada sesuatu yang tak mungkin kudapatkan. Cinta ini telah gagal menemukan cinta di dalam hatinya.

Pagi ini, kudengar namamu lewat kicau burung yang tengah terbang bebas di atasku. Menari bersama angin, dan sawah merekam mereka dalam kubangan harapan yang menenggalamkan sepi pagi ini. Kupikir, aku telah memilihmu namun kau tak merasa itu. Aku ingin memilikimu, namun kau tak punya rasa sedikit pun. Rasamu sepenuhnya untuk dia, inilah hal tersulit mencintaimu.



Semoga mentari mampu menghilangkan batas putus asaku, berharap lebih aku tengah menunggu. Awan, kuingin kau menjatuhkan beberapa tetesan - tetesan kasih sayang padaku untuk menguatkan tubuhku. Hujanlah...untuk cin(T)a ku yang tak terbalaskan. Dalam hujan, aku ingin memperdengarkanmu senandung rumput sepi.

Like the Post? Do share with your Friends.

11 komentar:

  1. wow...kata-katanya keren abis...
    ajarin dnk! ^_^

    BalasHapus
  2. busyeet deh... kata2nya mantap abis sob... bikin aku terbuai.
    bolehkah aku simpan sob?
    ijin ya

    BalasHapus
  3. Bang Pendi pikir, sampai kapanpun dia tak akan merasa apa yang kau rasakan padanya jika rasa itu hanya kau utarakan pada awan atau rumput yang bergoyang.
    Bicaralah...lalu kau akan tahu apa yang ia rasa

    BalasHapus
  4. suka bangeeet...semoga segera menemukan cinta, yg juga mencintaimu...

    BalasHapus
  5. @Penghuni 60= Bolehlah.., alhmdulillh kalau suka..

    @narti= Makasih mba.., ajarin apa nih??

    BalasHapus
  6. duh.. so sweet
    klo tulisan model bgini dsbut apa yah wank? cerpen, puisi atw apa yah?

    BalasHapus
  7. @Dhe= apa ya.?? Ini tulisan asal tulis aja, berdasrkn perasaan hati saat nulis...

    BalasHapus
  8. hm..mulai belajar nulis prosa ya...nice....

    BalasHapus
  9. Yakinlah sob,,, mentari akan menghilangkan batas putus asa mu,, dan yakinlah akan ada hujan yg turun menyejukkan hati dan meninggalkan embun2 yg berkilauan di dedaunan hati mu...

    Keep Smile n tetap semangat!!! :)

    BalasHapus

Komentar sahabat adalah Motivasiku!
Terima Kasih telah memberiku Motivasi!

IconIconIconFollow Me on Pinterest