Minggu, Juli 17, 2011

Rumput-rumput cin(T)a

Di samping sepeda ontel ini aku beristirahat dari malam yang mendesak batinku. Meskipun mentari dengan ramahnya berbagi cahaya pada tubuh mungilku ini. Rumput, aku rumput yang terdiam melihat awan mengurung lukisanku pagi itu, lukisan yang ingin kupersembahkan pada mawar putih yang angin kabarkan indahnya padaku.

Setiap malam, bintang mencoba mendamaikan hatiku yang terus merisaukan hadirnya disampingku. Jika kulihat Purnama kemarin terpancar sebuah senyum, yang mencerminkan hadirnya. Kuberitahu pada rumput-rumput sahabatku yang tengah merindukan nyanyian angin agar menatapmu, agar mereka mengerti tentang gelisah yang kurasakan saat ini. Dengan pijakan rapuh batu pada tanah yang retak kukabarkan sedikit harapan yang bumi anggap sulit untuk kudapatkan.Aku hanyalah rumput kecil yang tumbuh di pematang sawah, tempat para petani melangkahkan setiap pijakannya menuju bahagia dan hidup mereka.

Setiap malam aku menyaksikan bulan bermain dengan bintang-bintang yang ramah, sesekali mereka menjatuhkan bahagianya padaku namun aku tak pantas menerimanya. Biar petani saja dan anaknya yang menikmati semua itu. Aku sudah bahagia jika malam ini mendengar suara belalang-belalang sawah saling memadu kasih di balik bebatuan. Aku bahagia mendengar sang katak bernyanyi menggoda langit menaklukkan angin.

Aku tidak mampu memberi sesuatu yang berarti untuknya, untuknya yang saat ini tengah tersenyum dalam sebuah ruang, bermain bersama cahayanya sendiri. Di sebuah ruang yang tersembunyi, saat angin menceritakan indahnya dan langit memperlihatkan senyumnya dan awan memperjelas suaranya, aku semakin mati, layu tak berdaya lagi.

Kupikir cinta atau rindu itu menyenangkan, seperti saat kulihat ontel itu ditumpangi sepasang kekasih yang dengan mesranya membanggakan bahagia berbalut cinta. Inikah rindu pada mawar putih, inikah cinta pada mawar putih yang dari awal angin mengabarkannya indah.

Tak sepantasnya aku jatuh cinta pada mawar putih yang senantiasa disinari purnama, dihangatkan mentari, dipuji indahnya. Karena itu kuterima tubuhku kubiarkan menjadi alas kaki para petani, lumpur sawah yang akan menjadikanku indah. Tak menjadi satu masalah jika mawar putih tak melihatku,tak merasa, dan tak merindu sepertiku. Cukup aku yang terus bercerita pada purnama, pada bintang, dan mentari yang ramah. Biar ontel ini menekan dan membunuh cintaku.

Nantinya, aku ingin menikmati hari-hariku yang damai, siang malam silih berganti, kicauan burung di pagi hari, desiran angin di siang hari, lambaian gunung-gunung dan hangatnya sinar rembulan di malam hari.
Dalam gelap malam, ingin kuajak angin untuk selalu bersenandung merasakan cin(T)a.

Like the Post? Do share with your Friends.

2 komentar:

  1. pengen bgt ngeliat bintang malam2, jd pengen pulang kampung..hohohoho


    great words:)

    BalasHapus

Komentar sahabat adalah Motivasiku!
Terima Kasih telah memberiku Motivasi!

IconIconIconFollow Me on Pinterest