Rabu, Juli 27, 2011

Detik Kematiannya

Bisa saja rumput
membendung angin
menahan pijakanmu,
memancing senyummu


tepat saat kau memetik mawar
angin menegurmu, memperdengarkan nadanya

awan gambarkan rindu
langit senantiasa menerjemahkan ramahnya mentari
sebelum senja melukai semuanya


Rumput,
mendekat menemani mawar putih
berharap mendampingi, menemani, menjaga
namun mati setelah inginku kujelaskan padanya


Like the Post? Do share with your Friends.

7 komentar:

  1. mmmm... baca skali lg ahh biar mudeng, koz dah baca td kok masih ga ngerti yah,. padahal puisinya lumayan bagus. #dhe..dhe.. lelet banget cernanya. :D

    BalasHapus
  2. aku mawar putih...
    ah tanpamu rumput, aku bukan apa-apa
    siapa lagi yang hendak mengagumiku kalau bukan kamu
    aku suka ketika angin datang dan kita berdekatan
    aku selalu tak ingin rumput mati
    tapi apa daya ada tatapan lain yang menginginkanku
    dan kamu rumput, pengorbananmulebih dari apapun untukku

    *ahaha ahaahhaam g tau nyambung ato ga..hehe

    BalasHapus
  3. puisi yang bagus, walaupun saya kurang mengerti isinya..hehehe..

    BalasHapus
  4. itu mah namanya terlabat , gimana kagak terlambat lha "namun mati setelah inginku kujelaskan padanya" , makanya kalo punya hasrat, langsung omongin dan berterus terang, jangan disimpan dalam hati

    BalasHapus
  5. Nice... Mantab bro, aq menikmatinya. Salam sobat, maaf bru smpat nongol lagi. Salam sobat :)

    BalasHapus
  6. agak sedikit mendalam memahami puisinya.. berat katanya, dan mencoba menerka kira-kira kematian siapakah yang dimaksud?

    BalasHapus
  7. Hei. Hei. Hei...
    Kunjungan balik nih...

    Puisinya itu... tingkat tinggi...*Niningnya laload banget euy...
    HUaaa...

    BalasHapus

Komentar sahabat adalah Motivasiku!
Terima Kasih telah memberiku Motivasi!

IconIconIconFollow Me on Pinterest