Senin, Maret 14, 2011

Renungan Pete-pete

Pete-pete, sebutan angkutan umum di Makassar

Semenjak 17 Februari perasaanku berubah dalam menyikapi makna sebuah janji, ada ketidak percayaan lagi dengan janji perempuan yang sepertinya tulus namun sangat menyakitkan, bahkan bisa menimbulkan psikosomatis. Janji yang dilanggar bagaikan pisau batin yang menusuk langsung ke jantung, menghentikan detak keindahan dari kehidupan, dan melumpuhkan tubuh harapanku yang sebentar lagi kukuburkan dalam liang kekecawaan. Semua akan berakhir, tentang kesedihan, kepedihan, dan rasa sakit dikhianati akan hilang ditelan waktu. Namun bagiku, mungkin butuh waktu lama untuk menyembuhkan keadaan seperti ini.
Hari ini mungkin akan menghabiskan banyak energi, berangkat ke kampus pukul 7 pagi, kuliah jam pertama 7.30, siang ke Rumah Nalar, dan sore hari ikut sekolah menulis. Aku harus siap dengan kegiatan baru dalam langkah awal keluar rumah kuucapkan “Bismillahirrahmanirrahim!” sebagai senjata untuk memenangkan hari-hariku.
Perjalanan ke kampus dalam suasana pete-pete yang masih bersahabat, tidak seperti biasanya harus berdesak-desakan, dengan udara yang pengap, aroma tubuh yang menyengat, dan keringat yang berlarian dari pori-pori penumpang yang dipanggil oleh panasnya suasana dalam mobil. Namun pagi ini hanya ada empat penumpang yang akan menjadi penyemangat pak supir pagi ini. Kulakukan observasi sederhana dengan tiga penumpang yang semuanya perempuan sekaligus belajar psikologi secara langsung, dosenku bilang “Selama ada manusia, maka disitulah kalian belajar!”

Ada dua orang berjilbab, dan satu perempuan yang tidak berjilbab. Dua perempuan berjilbab putih dan ungu itu, duduk dengan anggun sambil membawa tas yang bermotif batik terlihat pas dipunggungnya, dan yang satu lagi tidak memakai tas. Kemudian seorang perempuan yang pas di depanku, rambutnya panjang terurai, rambutnya bagai air terjun Silver Strand di California yang mengalir di bahu mungilnya. Sayang, rambut seindah itu tidak ditutupi dengan jilbab. Ketiga penumpang itu perempuan, dalam perjalanan ketiga perempuan itu memegang handphonenya masing-masing, sesekali menelfon dan smsan pemandangan yang biasa di dalam pete-pete. Hipotesis sementara, hp menjadikan suasana pete-pete lebih hidup bagi perempuan ini, apalagi untuk perempuan tak berjilbab itu. Dari tadi jemarinya dengan lincah berkeliaran di tombol-tombol hpnya. Sesekali dia tersenyum membaca pesan-pesannya, dari bahasa tubuhnya sepertinya senyum itu timbul dari stimulus pesan-pesan yang dia baca, ada gelombang bahagia yang dia dapatkan.
Hp mungil warna hitamku bergetar dalam saku jas almamaterku, segera kulihat hpku dan membuka kunci tombolnya. Ada dua pesan, sms itu dari Fadlian, dan satunya lagi dari penoreh sejarah 17 Februari yang saat ini ingin kuhapus dalam kamus hidupku.
“Prof, udah dimana.? Saya dah dikampus nih.”
Kubalas pesan Fadlian segera, “Sdah dekt prof.! Dah di Pettarani.!” Nnt ktmu dmana?”
Panggilan prof ini, sudah berlaku semenjak saya membangun mimpi bersama temanku itu, sekaligus bukti bahwa kami bukanlah orang yang takut bermimpi, harus ada hukum tarik menarik yang Insya Allah akan mewujudkan gelar Prof menemani namaku dan nama Fadlian.
Sementara pesan yang satu ini, dari orang yang telah memberi warna berbeda nan indah dalam hari-hariku.
“Bisa saya telfon sekarang?”
Kututup pesan singkat itu kemudian mengantongi hp mungilku, aku berniat untuk mengabaikan segala hal tentang dia, masih butuh waktu untuk memperbaiki citra dirinya dipikiranku, bagiku saat ini dialah pemberi warna kekecawaan yang sangat besar. Hanya sebaris kalimat dari dia, namun sangat mengganggu dipikiranku. Saya berusaha untuk tetap tegar dalam menghadapi masalah ini, waktulah yang nantinya akan membantuku. Hanya beberapa menit, smsnya masuk lagi.
“Maaf,.....!”
Aku tengggelam dalam lamunanku. Satu kata yang mencoba menyentuh pintu kesadaranku, bahwa aku harus memaafkannya, namun itu percuma. Untuk saat ini, aku tidak bisa memaafkan dia begitu cepat, butuh waktu untuk menerima dirinya lagi. Bahkan kuanggap dia telah mati, dan orang yang mengirim sms ini hanyalah fansku dari sekian banyak wanita yang menggangu. Inilah susahnya jadi orang gagah. Berpikir positif saat ini adalah kunci dalam menemukan nuansa hatiku yang damai, dalam gelombang kehidupan yang jauh lebih hidup.
“Kiri depan pak!”
Suara perempuan berjilbab putih menghentikan lamunanku, pagi ini aku harus lebih baik dari hari kemarin. Harus itu.!! Kukeluarkan hpku dari saku, ada pesan yang tak saya rasakan getarannya, mungkin gara-gara memikirkan orang itu. Sms dari Fadlian, “Kita ketemu di BM 101 Prof!”
Aku balas smsnya dengan,
“OK deh..! Sekitar 5 Menit lagi sampai ”
Tak lama, kembali sms Fadlian muncul lagi,
“Prof, gimana dngn mslhnya.?”
“Sudah baiklah Prof, !”
Beruntunglah ketika hari itu, disaat sang penghianat janji itu datang kemudian merobek-robek kertas komitmen yang telah kutulis dihatiku. Temanku hadir mendengar cerita-ceritaku, dan menegarkan hatiku. Meskipun sebenarnya dia juga punya masalah keluarga yang baru saja dia ceritakan kemarin malam padaku. Namun sarannya sangat membantuku malam itu. Kampus sudah dekat, tinggal beberapa meter lagi.
“Kiri Pak..!”
Pete-pete berhenti dan kulangkahkan kakiku dengan niat untuk menuntut ilmu, dengan tekad menjadi yang terbaik dari semuanya. Mulai dari pete-pete, aku berpikir kedepan, bukan untuk memikirkan masalah yang ada, masalah bukan penghalang namun itulah batu loncatan untukku agar bisa menjadi lebih baik dan dewasa dalam memaknai hidup. Satu hal terpenting yang harus diperhatikan, bahwa teman atau sahabat sangatlah bernilai dan penuh makna, melebihi sesorang kekasih yang berparas cantik nan jelita namun mengkhianti janji-janji. Sahabatlah kekuatan terhebat dalam hidup untuk menjadi yang terbaik.
“Terima Kasih Prof.!”
Aku dan Fadlian harus lebih tegar menghadapi masalah, berjuang melawan dunia, bekerja keras melebihi orang disekitar kita, agar mimpi itu terwujud segera.
Dan, hari ini kutegaskan dalam perasaan dan pikiranku. “Aku ada untuk bermanfaat bagi semua!”


Like the Post? Do share with your Friends.

5 komentar:

  1. met malam...kirain ttg pete makanan

    BalasHapus
  2. @Sang Cerpenis bercerita Malam mba.., ah bukan pete yg makanan, tp pete-pete sebutan angkutan umum di Makssr dn skitrnya.

    BalasHapus
  3. sama dengan mbak fanny..kupikir juga pete itu sebutan untuk makanan. lucu juga kalo angkutan umum disebut begitu ^^

    BalasHapus
  4. owhh pete itu angkutan umum ya
    ^^

    wawank lagi galaukah
    jangan smpe satu kegalauan menghancurkan semua :)

    semangat yee

    BalasHapus
  5. hati2 naik pete2 dek....banyak lamunan bisa di hipnotis....hehe

    smg luka mu segera sembuh/..tp tujuanmu jauh lebih mulia ..

    jadi professor///amin

    BalasHapus

Komentar sahabat adalah Motivasiku!
Terima Kasih telah memberiku Motivasi!

IconIconIconFollow Me on Pinterest