Minggu, Februari 27, 2011

Penghapus Kesedihanku

Sudah sewajarnya jika kawanku mengalami perasaan yang seperti itu, dia merasa dikhianati oleh pacarnya. Bukan pacar lagi sih, tapi mantan yang masih punya janji ma Wawan. Aku bukan menghiburnya namun aku juga coba empati dengan keadaannya sekarang. Aku tak sehebat Wawan yang bisa punya pacar dan bertahan lama. Aku pacaran saja tidak pernah, tapi aku sepertinya mengerti perasaanya.

“Gawat ini Prof, Insya Allah aku akan membantumu Prof!”
“Inimi percikan kesedihan, kepalaku kayak mau pecah!”
“Wah, bahaya Prof kalau begitu!”
“Aduh, pusing saya kalau begini! Lebih Sulit dari masalah Kampus.”
“Pasti ada jalan keluarnya Prof.!”
“Dulu waktu putus, bilangji kalau nda adaji yang lain dihatinya. Dia juga tidak akan pacaran, tapi sekarang sakit hati mi ini e’!”
“Itumi Prof, ikhlaskan saja! Doakanmi.”

Panggilan Prof tetap kami lestarikan dalam setiap keadaan, sebagai penguat mimpi agar mendapatkan gelar itu. Aku dan Wawan, memang gila, nekat, suka menulis, main blog, rajin senyum pada semua orang.

“Saya tidak pernah berharap seperti ini Prof.!”
“Kau harus cari solusi cepatnya.!”
“Itumi, saya minta tolong ma kau Prof Fadlian.! Sesama Prof harus saling memberi solusilah!”
“Ok deh, saya dulu pernah punya pacar tapi saya cuekin padahal cantik. Kayak artis Korea mi itu cewe’!”
“Weitz, Sombongmu dih.! Saya nda butuhji cantiknya, asal konsistenji ma janjinya! Ituji Prof.!

Pembicaraan terus berlanjut membahas masalah demi masalah, tanpa terasa angin malam menusuk-nusuk lewat pori-pori kecil, dingin mudah untuk menembus tulangku. Dibawah Rumah Adat Soppeng, Bola Soba dan berbaring dibalai-balai berukuran 4 x 6 M melupakan sadisnya angin malam yang bisa memperparah kesehatanku. Flu makin parah, tapi demi mendengar uraian cerita sedih malam minggu kawanku ini. Aku kuatkan pertahanan tubuhku, sugesti diri sendiri.
“Prof, kenapa bisa gitu pacarmu?”
“Sayaji mungkin yang salah, mauki pacaran ma cwo yang lebih gaul, lebih asyik. Kalau bicara asyik ma gaul, aih nda adami kudapat itu nah!”
“Nda ji juga prof, santai saja!”

Sementara panitia sedang rapat, perundingan balai-balai semakin memusingkan batin kawanku itu. Sepertinya dia terlalu menaruh harapan pada perempuan itu, tapi sayang kenyataannya berbeda. Untung saja aku dan Wawan ikut Pengkaderan salah satu Organisasi Kampus, andaikan dia dirumah pasti hanya akan terus menyendiri. Wawan periang, namun ternyata ada masalah yang tersembunyi dan jarang diketahui orang sekitarnya. Tujuh bulan kebersamaanku bersama Wawan, dalam indahnya masa MABA yang penuh dengan ketegangan serta masalah yang silih berganti menyapa di dunia kampus, selalu saya hadapi bersama. Wawan Saudara baru anugrah tuhan bagi saya. Ada banyak teman baru yang saya dapatkan, namun yang gila segila Wawan jarang. Cinta Kebebesan tanpa perlu diurusi dengan BEM Fakultas atau kegiatan-kegiatan yang mengikat.

“Insya Allah, kita calon Psikolog, Prof!”
“Iya ya, setidaknya saya pecahkan masalahku dengan baik. Tapi malam ini sepertinya Problem Solving hilang diingatanku.”
“Tetap Semangat Prof, masa begituji!”
“Kemesjidki dulu Prof, kayaknya makin parah pilekmu itu!”
“Ayomi! Sebelum natahanki panitia”
Dalam perjalan menuju mesjid, kuperhatikan Wawan yang terus menunduk memerhatikan jalan, kutepuk pundak kanannya mencoba memberinya kekuatan pada saudara seperjuanganku ini. Ini mungkin perilaku langkah yang baru aku lihat dari Wawan.
“Jangan gitu e’, tetap ki Semangat Prof.!”
“Makasih, saya perlu menenangkan hati ini, masa calon Psikolog begini!”
“Gitu dong, itu baru Prof Wawan!”

Kubuka pintu mesjid berwarna hijau, mesjid yang ada di situs Benteng Somba Opu ini berukuran sederhana. Hijau ini warna kesukaan kami berdua, dan semoga saja warna itu bisa memberi efek psikologis bagi Wawan.

“Prof, tidurmi saja.!”
“Kalau Prof Wawan, gimana.?”
“Saya mau dulu menenangkan hati, tidur duluanmi saja. Karena nda mengantuk ja saya!”
“Pengaruhnya mi Yuni ini?”
“Maybe Yes Maybe No!”

Senyum menutup percakapan Wawan, senyum pertama yang baru aku lihat terbit dari wajahnya yang ditimpa musim kesedihan malam ini. Aku mengambil dua sajadah mesjid kulipat untuk jadikan bantal untuk tidurku. Tak tega rasanya aku tidur sementara Wawan masih memegang hp Nokia 1202 Mungilnya, Komunikater (Komunikasi dan Senter) istilahnya.
Aku mulai siap berlayar dipulai mimpiku, meninggalkan kawanku yang masih merakit masalahnya. Wawan pernah berharap untuk mendapatkan kado ultah dari orang yang dia cintai, namun sepertinya ultahnya kali ini yang tinggal beberapa hari lagi akan tidak menyenangkan seperti yang diharapkan. Sebelum aku tidur, aku masih melihatnya diluar. Sepertinya dia menelfon seseorang, kelopak mata mulai bergerak sedikit demi sedikit. Dalam hitungan ketiga, aku akan tertidur, Satu...Dua...Tiga..! Aku tidur Kawan.
***
Getaran perlahan-lahan mulai memanggilku ke alam sadarku. Hpku dengan jam alarm yang kusetting pukul 3.59 membangunkanku. Kakiku merah, tanganku pun merah bekas serangan nyamuk-nyamuk kelaparan, ganas memborbardir kulit hitam manisku. Kulitku hitam manis kata teman-temanku, dan sepertinya memang benar adanya. Akupun bangun dari tidurku yang nyenyak, meskipun bermasalah dengan nyamuk.Kemudian kupalingkan pandanganku kearah kanan, terlihat Wawan tersenyum. Wawan subuh itu bersenjatakan pulpen faster hijau dan tiga lembar kertas.

“Prof, kerja apa ki?”
“Biasa Prof, Puisi. Aku tulis puisi untuk menghilangkan perasaan anehku, dan mengambil inspirasi dari masalahku”

Sepertinya di wajahnya ada pergantian musim, senyumnya itu adalah pertanda bahwa dia sudah kembali pada alam sadarnya. Mungkin saja tadi malam, dia masih stress dan alam sadarnya tidak terarah.

“Cinta dalam kepedihan bermakna ilusi padaku
Namun malam ini kujatuhkan harapanku pada bintang
Bukan untuk belajar akan ilusi, namun menghamburkan
Kesungguhanku pada langit mahligai cinta di hatimu
Cinta adalah senyum penghapus kesedihan”

Bait puisinya sampai tiga lembar, sepertinya dia keserupan hantu yang super puitis. Wawan memang biasa menulis puisi, namun subuh ini sepertinya inilah tulisan hati. Pikirku, kenapa kau tidak sakit hati terus? Supaya tulisanmu keren begini kawan. Sepertinya orang yang dia telfon tadi malam telah memberinya kekuatan baru.

“Siapa kau telfon tadi malam Prof?”
“Kak Gelish namanya, untung belum tidurki. Curhat satu jam lebih dari jam 2 subuh sampai jam 3 subuh!”
“Jadi bagaimanami keadaanmu sekarang Prof?”
“BUTUH WAKTU, itu kata kakak.!”

Dibalik senyum-senyumnya, Wawan mencoba memberi kekuatan pada dirinya sendiri untuk tetap melanjutkan perjalanan hidupnya, tanpa harus terbawa masalah yang seperti ini.

“Cinta adalah senyum penghapus kesedihan”
Bait itulah yang ada pada Wawan, Prof Wawan.!



Like the Post? Do share with your Friends.

17 komentar:

  1. wahhh....ada apa dengan kauuu ini kawannn....ckckck.....

    BalasHapus
  2. wahhhhh.....cinta....resah banget tampaknya? hihihi...

    BalasHapus
  3. @Lily Kasim = Sangt resah kayaknya mba'., mohon masukannya dulu.!

    @cly=Ada masalah cinta kawand.!

    BalasHapus
  4. :D saya bingung liat dialognya

    BalasHapus
  5. Barusan posting untuk mengatasi gelisah. Ikhlaskan, dan meyakini akan dapat ganti lebih baik mungkin bisa membuat lebih tenang dikit

    BalasHapus
  6. @Henny Yarica= Hehehe, maaf kak. Dialognya saya setting gaya bahasa Makassar, ada istilah "ji", "mi", dll.

    Lain kali sy buat yg bisa kakak nikmati..! Hhehehehe

    BalasHapus
  7. sebenarnyaa z nda tw cara menulis cerpen... z hanya pembaca buku, novel, dan majalah...
    sriuz mw dengar komentarku???? z sdh bilang klo sy komentar itu "jarang org nda sakit hati".... :)
    tapi, baiklah...

    menurutku...

    1, penokohan nda jelas... waktu pertama kali z baca ceritanya sampe habis z kira ada banyak tokoh... ditambah lagi ada kata "prof" seakan menambah banyak tokoh yang ada di cerita... tapi ternyata tidak kan??? awalnya z nda tw sapa2 saja yang berperan di dalam cerpen... bayangkan z sampe berkali2 membaca stiap kalimatnya baru saya bisa ngerti... *saya tdk membaca sendiri, tapi berdua dgn "teman" ku... (dan kami sama2 bingung)...

    2. latar tempat dan waktunya nda jelas..., pada awal cerita z nda tw dimana dan kapan...., setelah pertengahan cerita z tambahhhhhhhh bingung *gak ada angin, hujan, dan badai ^_^* tiba2 settingnya MOS MABA... BUNGING saya =="

    3. ceritanya "cukup" menarik... artinya nda menarik2 amatjie... ^^.V
    setelah sekian kali z baca cerpennya, z dan "teman"ku mencoba mencerna kembali alur ceritanya... tapiiiiiiiiii anehnyaaaaa..., kami punya pendapat yang berbeda.. temanku bilang inti ceritanya adalah wawan putus dengan pacarnya tak lama kemudian dia jatuh cinta lagi dgn kak gelish...
    klo pendapatku lain...
    *btw, pendapat temanku benar yah??????


    4. oiya, puisinya kok nda nyambung dengan ceritanya???? =="

    BalasHapus
  8. @Sweet Home= Asyikkkk..!!

    Komentar satu halaman..!!!

    Nanti sy perjelas, krn ini memang cerpen biasa2, oia, nda jatuh cinta ji ma kakak..! Cuma, dia yg ksi saran ma sy, BUTUH WAKTU..!!

    Ok kak..

    BalasHapus
  9. assalammualaikum
    wank,,menurut chika ceritanya bagus tapi ada beberapa catatan nih hehee....

    betul kata temen mu yang di atas, pembaca agak kurang ngeh ama penokohannya, awalnya chika agak bingung dengan tokoh aku disana siapa, tapi setelah dibaca lagi baru mengerti

    selanjutnya, dalam percakapan itu bahasa apa ya wank??chika agak kurang familiar gitu, kalau menggunakan bahasa daerah, jangan lupa kasih catatan dibawah nya (artinya) karena gx semua orang mengerti^^

    siipp terus berkaya

    nb: chika ngasih catatan bukan berarti tulisan chika bagus lho hehe,,,sama2 msih beljar ;)

    BalasHapus
  10. @♥chika_rei♥= Makasih cika, ok sarannya diterima.!!!

    BalasHapus
  11. Semangat kawan...
    Hidup memang penuh warna warni...

    btw...lepas saja link saya yang cara beriklan di internet sob.
    Kontes sudah berakhir.
    Dan untuk link kedua blogku kalau bisa mohon di edit soalnya double garis miringnya..terus pasang WWW untuk blog http://www.tenriewa.co.cc
    Makasaih sebelumnya sob

    BalasHapus
  12. Yang jelas... ini tentang kesedihan karena cinta kan..?

    BalasHapus
  13. Ini cerita tentang siapa ya...? Maaf kurang bisa nangkep ceritanya.

    BalasHapus
  14. Hanya waktu yg bisa menyembuhkan segala luka.... kata orang2 tua sih... ;)

    BalasHapus
  15. cerita yang menarik
    sempat kaget juga sih karena disisipkan sedikit kata-kata bugisnya

    BalasHapus

Komentar sahabat adalah Motivasiku!
Terima Kasih telah memberiku Motivasi!

IconIconIconFollow Me on Pinterest