Minggu, Desember 05, 2010

Bulimia Nervosa, Gangguan Makan


Bulimia berasal dari bahasa yunani yang berarti “lapar seperti sapi jantan”, Gangguan ini mencakup episode konsumsi sejumlah besar makanan secara cepat, diikuti dengan perilaku kompensatori, seperti muntah, puasa, atau olahraga berlebihan, untuk mencegah terjadinya berat badan bertambah.

DSM mendefinikan bahwa bumilia berawal dari makan makanan secara berlebih lebihan. Pada bulimia, makan berlebihan biasanya dilakukan secara diam-diam, dapat dipacu dengan stres dan berbagai emosi negatif yang ditimbulkannya, dan terus berlangsung hingga orang yang bersangkutan hingga orang yang bersangkutan merasa sangat kekenyangan.

Setelah selesai makan berlebihan, rasa jijik, rasa tidak nyaman, dan takut bila berat badan bertambah memicu tahap kedua bulimia nervosa, pengurasan untuk menghilangkan efek asepan kalori kaena makan berlebihan. Paling sering pasien memasukkan jari-jari mereka kedalam tenggorokan agar tersendak, namun setelah satu waktu banyak yang dapat muntah bila menghendakinya tanpa membuat diri mereka tersendak.

Perubahan fisik pada bulimia nervosa
Seperti halnya anoreksia nervosa, bulimia terkait dengan beberapa efek samping pada fisik. Meskipun lebih jarang dari pada anoreksia, menstruasi tidak teratur, termasuk amenorea, dapat terjadi, meskipun para pasien bulimia biasanya memiliki indeks massa tubuh dan IMT yang normal.

Prognosis
Pemantauan yang telah dilakukan dalam beberapa penelitian bahwa bulimia sebesar 70% dapat disembuhkan, meskipun sekitar 10 persen masih tetap sepenuhnya simtomatik. Para pasien bulimia yang lebih sering makan berlebihan dan muntah, komorbid dengan penyalahgunaan zat, atau memiliki riwayat depresi memiliki prognosis lebih buruk dibanding pasien tanpa faktor-faktor tersebut.

Penanganan gangguan makan
Perawatan rumah sakit yang kadang dijalani dengan terpaksa, seringkali diperlukan untuk menangani pasien bulimia agar asupan makanan pasien dapat ditingkatkan secara bertahap dan dipantau dengan teliti. Pada bulimia, perlu untuk diberikan intervensi biologis dan psikologis.

Penanganan biologis
Karena bulimia nervosa sering kali komorbid dengan depresi, gangguan ini ditangani dengan berbagai antidepresan. Fluoksetin lebih memberikan hasil dibandingkan dengan plasebo untuk mengurangi makan berlebihan dan muntah, juga mengurangi depresi dan sikap yang menyimpang terhadap makanan dan makan. Sayanganya, hal itu tidak terlalu berhasil. Hanya memulihkan berat badan tanpa mengurangi gejala-gejala psikologis.

Penanganan Psikologis bulimia
Pendekatan terapi perilaku kognitif (CBT-cognitive) dari fairburn merupakan strandar penanganan bulimia yang paling baik tervalidasi paling baik dan paling terkini. Dalam teori fairburn, psien didorong untuk mempertanyakan berbagai standar masyarakat terkait dengan daya tarik fisik. Para pasien juga juga arus mengungkap dan kemudian mengubah keyakinan yang mendorong mereka melaparkan diri untuk mencegah bertambahnya berat badan.

Daftar Pustaka

Davidson, G.C., Neale, J.M., & Kring, Ann M. 2000. Psikologi Abnormal. Jakarta: PT. Raja Grafindo Permata.


Like the Post? Do share with your Friends.

7 komentar:

  1. wah, aku baru tau soal ini...
    saudaraku pernah mengalami hal seperti itu..
    mksh ya infonya...

    oya, linkmu udh aku pasang tuh... thnks

    BalasHapus
  2. saya juga baru tahu nich kawan...
    makasih atas share nya ya...

    BalasHapus
  3. ini namanya manucia rakus!

    BalasHapus
  4. artikel yang menarik. sekalian confirm masalah tukar link. link sobat telah terpasang. silahkan dicek yaaa.. terima kasih

    BalasHapus
  5. haduh....serem juga...
    mudah2 an aja saya nggak kena...

    BalasHapus
  6. Saya pernah denger beberapa profesi seperti model di LN sono, Bulimia ini jadi kayak gaya hidup malahan.. memang hampir sejenis sama kayak anorexi

    BalasHapus

Komentar sahabat adalah Motivasiku!
Terima Kasih telah memberiku Motivasi!

IconIconIconFollow Me on Pinterest